Fajar Syawal sesaat lagi menyingsing, menghapus gelap yang kemarin masih menyelimuti bumi. Langit berseri, dihiasi gemuruh takbir yang menggema dari sudut-sudut kampung hingga ke jantung kota. Udara dipenuhi aroma ketupat dan opor ayam, melayang bersama harapan yang baru. Hari idul fitri, pintu-pintu rumah terbuka lebar, sebagaimana hati yang bersiap menerima dan memberi maaf.
Di pelataran monumen nasional, Budi dan saya duduk di pelataran pintu parkiran, menatap hamparan halaman dengan mata yang menerawang jauh. Di tangannya, sebuah benda elektronik siap sedia sebagai penopang tugasnya.
Aksi pun berlalu, dan satu pintaku, semoga amal baik kami bisa membawa kami menuju gerbang keindahan abadi dimana dibulan suci ramadhan kita tetap selalu menyuarakan isi hati walaupun itu harus berpanas-panasan di ujung aspal yang tak pernah kita tau ujungnya.
Ramadhan kini telah pergi dan Idul Fitri menanti. Namun, Idul Fitri bukan sekadar tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah tentang keikhlasan, tentang melepaskan dendam, tentang kembali menjadi manusia yang suci. Bukan hanya di mata Tuhan, tetapi juga di mata sesama. Sebab di hari yang fitri ini, cahaya maaf adalah sinar yang paling terang.