Sebagai aktivis gerakan serikat pekerja, sosial, koperasi, Henut Hendro sepertinya tidak mengenal lelah untuk menyuarakan akan kegelisahan dalam pergerakan serikat pekerja. Terlebih bagi para buruh atau pekerja yang telah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mengutip dari akun media sosial miliknya.
Saya, tidak habis pikir mengapa realita tentang kehidupan anggota serikat pekerja yang sudah ter-PHK, tidak menarik bagi serikat pekerja untuk menjadi bahan diskusi untuk kemudian menjadi bagian yang di perjuangan, selain perjuangan serikat pekerja untuk anggotanya yang masih bekerja.
Fakta bahwa mayoritas pekerja yang sudah ter-PHK kondisi kehidupan sosial ekonominya terpuruk meskipun dulunya pernah menjadi anggota serikat pekerja sekalipun, bahkan fakta lainnya adalah adanya perubahan sikap psikologis pertemanan terhadap mereka yang sudah ter-PHK.
Mengapa serikat pekerja hanya melakukan setengah jalan dalam gerakannya, strateginya, instingnya, bukankah kehidupan para anggota serikat pekerja masih terus berlanjut setelah mereka ter-PHK, dan bahkan tantangan kehidupannya jauh lebih rumit dibandingkan disaat mereka masih bekerja.
Bukankah aku, kamu, engkau, kalian dan kita semua yang saat ini masih bekerja hanya soal waktu untuk ter-PHK.
Karena PHK adalah hal yang pasti terjadi, yang bisa saja setelah kita ter-PHK nasib kita sama seperti mereka yang sudah ter-PHK terlebih dahulu dengan keadaan yang kurang beruntung dalam kehidupan sosial ekonominya atau bahkan lebih buruk lagi, meski kita berharap itu tidak terjadi dengan kita nanti.
Rasanya akan sangat menyedihkan jika kita sebagai aktivis serikat pekerja, pengurus serikat pekerja, pemimpin serikat pekerja tidak berani untuk melihat realita yang ada saat ini, karena lebih fokus untuk terus mendapatkan dan membesarkan angka-angka demi hasrat yang selalu haus dan kekurangan.
Ditulis oleh Henut Hendro, S.E. (Direktur Inkopbumi FSPMI)