Gerakan buruh telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan sosial, ekonomi, dan politik di berbagai negara. Dari era revolusi industri hingga zaman modern, buruh telah bersatu untuk memperjuangkan hak-hak mereka, seperti upah layak, kondisi kerja yang aman, dan perlakuan yang adil.
Berikut adalah gambaran perkembangan gerakan buruh dari masa ke masa:
Pertama, Awal Mula: Revolusi Industri (Abad ke-18 hingga ke-19)
Revolusi industri pada akhir abad ke-18 di Eropa menandai awal dari gerakan buruh. Perkembangan mesin dan pabrik mengubah cara produksi, namun membawa dampak buruk bagi para pekerja. Jam kerja panjang, upah rendah, dan kondisi kerja berbahaya memicu ketidakpuasan.
Gerakan awal: Buruh mulai membentuk serikat pekerja atau “trade unions” untuk menuntut perbaikan kondisi kerja. Salah satu tonggak penting adalah pembentukan Combination Acts di Inggris pada awal abad ke-19, meskipun undang-undang ini awalnya melarang buruh untuk berserikat.
Momen penting: Pada 1848, Manifesto Komunis yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels menjadi inspirasi bagi banyak gerakan buruh di seluruh dunia.
Ke dua, Abad ke-20: Era Perjuangan Hak-Hak Sosial. Dimana, pada abad ke-20, gerakan buruh mulai terorganisir secara lebih sistematis dan meluas ke berbagai negara. Di banyak tempat, serikat buruh menjadi kekuatan politik dan sosial yang signifikan.
Di Eropa dan Amerika: Aksi mogok massal, seperti Pullman Strike di Amerika Serikat (1894) dan gerakan buruh di Inggris, berhasil menekan pemerintah untuk memperbaiki undang-undang ketenagakerjaan.
Di Indonesia: Gerakan buruh mulai tumbuh di masa kolonial Belanda. Syarikat Islam (SI) dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP) menjadi pelopor perjuangan buruh melawan penindasan kolonial.
Prestasi penting: Pada tahun 1919, Organisasi Buruh Internasional (ILO) dibentuk untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi pekerja di seluruh dunia.
Ke tiga, yaitu Periode Pasca-Perang Dunia II.
Setelah Perang Dunia II, gerakan buruh mengalami perubahan signifikan karena pengaruh politik global, termasuk Perang Dingin. Di beberapa negara, buruh berkontribusi pada pembangunan nasional.
Di negara maju: Serikat buruh menjadi bagian penting dari sistem demokrasi, menuntut jaminan sosial, seperti asuransi kesehatan, pensiun, dan pendidikan.
Di negara berkembang: Buruh sering kali menjadi bagian dari gerakan anti-kolonial, seperti di Indonesia pada era kemerdekaan. Partai buruh dan organisasi massa kerap dikaitkan dengan perjuangan melawan penjajahan dan penindasan.
Kemudian, ke empat yaitu Era Globalisasi (1980-an hingga 2000-an).
Globalisasi membawa tantangan baru bagi gerakan buruh, seperti outsourcing, automatisasi, dan liberalisasi pasar. Persaingan global sering kali melemahkan posisi tawar buruh.
Tantangan baru: Deregulasi dan privatisasi membuat banyak perusahaan besar menginginkan upah pekerja lebih murah.
Respons buruh: Gerakan buruh internasional mulai membentuk aliansi global, seperti International Trade Union Confederation (ITUC), untuk memperjuangkan hak buruh secara global.
Selanjutnya, ke lima adalah Gerakan Buruh di Era Modern (2020-an ke atas)
Di era modern, gerakan buruh menghadapi tantangan dari teknologi dan perubahan pola kerja, seperti munculnya pekerjaan gig economy (pekerja lepas berbasis aplikasi).
Isu utama: Perlindungan pekerja digital, keseimbangan kerja-hidup, dan keberlanjutan lingkungan.
Aksi terkini: Mogok kerja massal di perusahaan teknologi dan ritel besar menunjukkan bahwa buruh tetap memiliki daya tawar di tengah perubahan zaman.
Di Indonesia: Isu seperti Omnibus Law dan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi sorotan utama gerakan buruh dalam memperjuangkan keadilan sosial.
Dari masa ke masa, gerakan buruh telah memainkan peran penting dalam mendorong perubahan sosial dan ekonomi. Meskipun menghadapi tantangan yang terus berkembang, semangat solidaritas dan perjuangan buruh tetap relevan dalam membangun dunia kerja yang lebih adil. Dengan adaptasi terhadap perubahan zaman, gerakan buruh akan terus menjadi kekuatan untuk keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Foto: Fajar Setiady, Kabiro Media Perdjoeangan Daerah Purwakarta