Banjar, KPonline – Hari pertama Idulfitri 1446 Hijriah, dimanfaatkan oleh warga Kampung Belembeng, Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar untuk melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi nyekar ini menjadi momen penting bagi banyak keluarga sebagai bentuk penghormatan dan kirim doa bagi orang tua serta leluhur mereka.
Seperti yang terlihat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karangjati 04 Kampung Belembeng, Desa Batulawang Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, banyak warga datang bersama keluarga besar mereka untuk mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang ke Rahmatullah.
Salah satu penziarah Riska Krismayanti mengatakan bahwa keluarganya selalu melaksanakan ziarah kubur pada hari pertama Lebaran sebagai bagian dari tradisi nyekar keluarga.
“Kami sudah terbiasa berziarah ke makam orang tua pada hari pertama Idulfitri sebelum bersilaturahmi ke rumah sanak saudara,” ungkap Riska saat ditemui di TPU Karangjati 04, Senin (31/3/2025).
Menurutnya, mendahulukan ziarah ke makam orang tua memiliki makna penting dalam keluarga mereka. “Pertama, kita silaturahmi dengan orang tua yang masih hidup, lalu kita ziarah ke makam orang tua yang telah berpulang. Setelah itu, baru kita bersilaturahmi ke keluarga dari kedua orang tua,” tambahnya.
Bagi Riska dan keluarganya, tradisi nyekar ke makam bukan sekadar tradisi, tetapi juga sebagai bentuk bakti dan penghormatan kepada orang tua yang telah meninggal dunia. Selain itu, mereka juga membacakan doa, tahlil, tahmid, dan surat Yasin sebagai bagian dari ibadah mereka.
“Ini sudah menjadi kebiasaan kami secara turun temurun. Kami memilih hari pertama Idulfitri untuk berziarah ke makam orang tua,” tutupnya.
Tradisi nyekar di hari pertama Lebaran memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, khususnya bagi umat Islam. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah berpulang, tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya doa dan silaturahmi dalam kehidupan bermasyarakat. (Yanto)